Shop Mobile More Submit  Join Login
About Hobbyist Artist Rygen K. YudhaMale/Indonesia Recent Activity
Deviant for 3 Years
Needs Core Membership
Statistics 12 Deviations 8 Comments 1,242 Pageviews
×

Newest Deviations

Slow But Sure by petaksembilan Slow But Sure :iconpetaksembilan:petaksembilan 1 0 Where Are You Going by petaksembilan Where Are You Going :iconpetaksembilan:petaksembilan 0 0 Everyday Spending Time With Fun by petaksembilan Everyday Spending Time With Fun :iconpetaksembilan:petaksembilan 3 0 Halo Dab...!! by petaksembilan Halo Dab...!! :iconpetaksembilan:petaksembilan 0 0 Everyday Is Ngopi by petaksembilan Everyday Is Ngopi :iconpetaksembilan:petaksembilan 4 0 The Selo City by petaksembilan The Selo City :iconpetaksembilan:petaksembilan 0 0 Let's Talk On My Timeline by petaksembilan Let's Talk On My Timeline :iconpetaksembilan:petaksembilan 0 0 Komedi Putar by petaksembilan Komedi Putar :iconpetaksembilan:petaksembilan 0 0 Kora Kora Sekaten by petaksembilan Kora Kora Sekaten :iconpetaksembilan:petaksembilan 1 0 Hello...!! by petaksembilan Hello...!! :iconpetaksembilan:petaksembilan 2 0 Yes, It's Me... by petaksembilan Yes, It's Me... :iconpetaksembilan:petaksembilan 0 0

Favourites

YELLHEAH!! by Barandals YELLHEAH!! :iconbarandals:Barandals 2 2 Mbah Maridjan by herpri Mbah Maridjan :iconherpri:herpri 3 0

Watchers

deviantID

petaksembilan
Rygen K. Yudha
Artist | Hobbyist
Indonesia
Hello...my name is Rygen.
I'm a graphic designer/layouter of daily newspaper.
But, I have side job a digital printing. Hope you enjoy my artwork.

Best Regards,
Rygen K. Yudha
Interests

Memperbincangkan perihal dikotomi otodidak versus akademik di lingkungan ranah desain komunikasi visual sampai detik ini agaknya tidak pernah tuntas. Sampai-sampai kata akademik menjadi mitos dan momok yang menakutkan.

Apa sih dosa dari akademik? Apa sih kesalahan dari otodidak? Apakah kalau akademik itu dengan serta merta mengoposisi-binerkan nonakademik atau sebaliknya? Apakah akademik lebih percaya diri, lebih hebat, lebih superior dibandingkan otodidak atau sebaliknya?

Bagi saya, dikotomi otodidak versus akademik itu hanyalah realitas semu yang dibangun oleh parapihak yang orientasi politiknya mengarah pada proses memarjinalkan salah satu pihak.

Dikotomi otodidak versus akademik adalah upaya sempit parapihak yang ingin mengotak-kotakkan dua hal yang seharusnya bisa saling melengkapi.

Ranah akademik dalam realitas sosialnya lebih banyak mengedepankan proses belajar mengajar dalam kerangka pendidikan formal. Apresiasi dan hasil akhir dari proses belajar itu dilegalkan dalam bentuk ijasah, transkrip nilai, dan gelar sarjana desain di belakang nama penyandangnya.

Di dalam masyarakat, realitas sosial akademik dan otodidak itu terlihat manakala kedua kubu tersebut memasuki pasar kerja yang berorientasi pada industri komunikasi visual. Suasana kaku itu terlihat pada awalannya saja. Selanjutnya terserah kemampuan, bakat, dan talenta mereka masing-masing.

Ketika kubu akademik sudah merasa puas dengan hasil capaiannya sebagai orang yang berlabel pendidikan formal. Saat kubu akademik merasa puas dengan tiga huruf di belakang namanya sebagai representasi gelar akademik. Selanjutnya mereka beranggapan tidak perlu belajar lagi, karena masa studi di lembaga pendidikan formal sudah katam. Maka, saat itulah jurang curam akan menjerumuskan dan menerkam mereka di lembah hina dina. Sebaliknya jika kubu otodidak senantiasa mengedepankan semangat belajar tiada akhir dan selalu melakukan eksperimen kreatif, maka masa depan mereka pasti lebih gemilang.

Sejujurnya, saya sangat hormat dan bangga dengan kawan-kawan yang berangkat dari kubu otodidak maupun ranah akademik yang setiap saat dan tiada henti mewacanakan desain komunikasi visual baik yang bersifat skill, konsep, maupun teori. Proses belajar yang tiada akhir itu sebenarnya bagian dari fitrah manusia yang memiliki kodrat sebagai makhluk sosial ataupun individu.

Sebagai makhluk sosial, kondratnya akan selalu memberikan sesuatu yang dimiliki manakala ada individu lain membutuhkan bantuan dan pemikirannya. Sementara sebagai makhluk individu kita harus membekali diri dengan senantiasa belajar berbagai hal agar memiliki posisi tawar yang kuat di tengah gempuran persaingan global semacam ini.

Jadi, kebutuhan untuk selalu menimba ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap manusia Selama manusia tersebut ingin mengisi hidup dan kehidupannya ini dengan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, bagi sesamanya, dan bagi lingkungannya.

Sebagai manusia kreatif, baik yang berasal dari kubu otodidak ataupun yang berangkat dari ranah akademik, kita tidak bisa hanya menunggu peluang, tetapi harus merebut peluang. Caranya: pertama, membangun jaringan yang kuat di antara beberapa pihak.

Kedua, membuat jaringan yang signifikan dengan dunia desain komunikasi visual berikut industri turunannya.

Ketiga, menumbuhkan rasa percaya diri bahwa yang paling tahu atas kemampuan dan profesi pribadi adalah diri kita sendiri.

Keempat, membangun marketing komunikasi yang ciamik dengan parapihak. Sebab sejatinya, industri komunikasi visual senantiasa kekurangan sumber daya manusia kreatif desain komunikasi visual. Artinya, industri komunikasi visual atau lapangan kerja yang berhubungan dengan komunikasi visual tidak akan pernah habis, selama manusia masih hidup. Selama manusia masih melakukan interaksi sosial. Ketika manusia melakukan interaksi sosial secara horisontal maka siapa pun akan memanfaatkan medium komunikasi yang salah satu bentuknya adalah karya-karya desain komunikasi visual.

Kelima, menanggalkan zona nyaman yang selama ini sudah kita miliki.

Keenam, mempersiapkan diri untuk setiap saat berubah mengikuti ruang dan waktu yang senantiasa bergulir cepat.

Ketujuh, memperbanyak membaca. Sebab, sebagai seorang komunikator visual harus memiliki segudang informasi, wawasan, pengetahuan agar tidak canggung untuk melakukan proses komunikasi dengan parapihak. Dengan banyak membaca maka sejatinya kita sedang belajar (apapun) secara otodidak. Dan itu lebih efektif hasil capaiannya.

Kedelapan, peluang besar yang terkait dengan masalah komunikasi dan interaksi sosial antarmanusia ini tentu akan ditanggung bersama antara kawan-kawan desainer komunikasi visual yang otodidak maupun lulusan pendidikan formal desain komunikasi visual.

Dengan demikian, masihkah kita harus ngrumpi mempertentangkan dikotomi otodidak versus akademik dalam jagat kreatif desain komunikasi visual?


By: Pak Guru Oemar Bakri (@sumbotinarbuko)

  • Eating: Noodles
  • Drinking: Coffee

Comments


Add a Comment:
 
No comments have been added yet.